Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nufus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nufus. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 November 2023

Kecil, TAPI MENYELAMATKAN

Hal enteng, ringan dan gampang tapi inilah yang MENGUNDANG  pertolongan Allah SWT.

Maka, jangan perah melewatkan satu haripun tanpa membantu orang. Karena dengan membatu orang, Allaah SWT segera turun tangan Menolong dan Membantu kita.

Menolong, tidak selalu berupa uang, pemberian barang atau sumbangan. Bantuan, bisa berupa perhatian, tenaga, saran dan DOA.

Kita telisik beberapa riwayat berikut ini :

1. Bantuan Tidak Selalu Berupa Benda:

لا نَعلَمُ بعدَ رحمةِ اللّٰهِ مَا الذي سيُدْخِلُنا الجنةَ ؟؟ أَهِيَ ركعةٌ ، أو صدقةٌ ، أو سُقْيَا ماءٍ ، أو حاجةُ مؤمنٍ قَضَيْنَاها ، أو دعوةٌ ، أو ذكرٌ .

فاعْمَلْ ولاَ تَسْتَصْغِرْ .

"Sungguh, kita tidak pernah tahu, dengan Rahmat Allaah  yang mana yang akan memasukkan kita ke Surga ? 

Apakah itu Sujud Rukuk kita, atau sedekah kita,  atau pemberian minum kita kepada sesama, atau menolong kebutuhan orang Mukmin yang kita wujudkan, atau Do'a, atau Dzikir kita? 

Maka berbuatlah, beramallah,  dan jangan pernah memandang remeh kebaikan sekecil apapun".

2. Biasakan berbuat baik untuk orang dari  sekarang, minimal dengan DOA:  

اذا لم تستطع اسعاد شخص تحبه فادع الله له ان يسعده فهو اعلم بمواطن اسعاده منك.

اللهم اسعدنا و من نحب سعادة ابدية.

(من كلمات الامام الجليل الشيخ الشعراوى)

Artinya: "Jika engkau belum mampu membahagiakan orang yang engkau sayangi, maka bantulah mereka dengan DOA mu sesering mungkin,  semoga Allaah SWT Turun Tangan membahagikan dia dan membahagiakanmu.

Sungguh, Allaah SWT lebih Mengetahui dari engkau  bagaimana cara membahagiakan dia.

Yaa Allaah, anugerahilah kami dan orang orang yang kami sayangi kebahagiaan yang abadi di Dunia dan di Akhirat".

Aamiin.

(Terjemahan dari Fatwa Al-Imam Mutawalli As-Asya'raawi ).

3. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ


“Siapa yang cintanya untuk Allaah, dan bencinya karena Allaah, memberi karena Allaah dan tidak memberi pun karena Allaah, maka sungguh telah sempurna Iman nya.” 

(Hadits Sahih Riwauah Al Imam Abu Dawud)


Hikmah/Pelajaran:

Mulai hari ini, tidak ada lagi hari yang terlewatkan tanpa besedekah, berupa: 

1. Memberi uang, meskipun  hanya 5 atau 10 ribu kepada pemulung, tukang sampah, kebersihan.

2. Memberi air munum, minimal 1 atau 2 botol atau 1 bungkus  nasi.

3. Bersihkan lemari dari pakaian pakaian bekas layak pakai, sedekahkan.

4. Kalau tidak mampu itu semua, bantulah,  bersedekahlah dengan DOA, senyuman dan tenaga, perlancar urusan orang.

5. Allaah SWT, Mencintai ibadah yang rutin,   istiqomah, dan ketekunan kita, walau sedikit.

Rasuulullaah SAW bersabda: 

عن امنا عائشة رضى الله عنها قالت، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai Allaah Ta’alaa,  adalah amalan yang rutin, berkelanjutan, terus menerus  walaupun itu sedikit.”.

’Aisyah RA  beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW saat ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allaah.

Rasuulullash SAW  menjawab; 

أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang rutin,  walaupun sedikit".

6. Biasakan hal hal ini, dan perhatikan bantuan Allaah SWT kepadamu.  In Syaa Allaah.

Semoga Allaah SWT senantiasa mengijabah doa doa kita, dan menganugerahkan kita kemampuan rajin bersedekah, peduli dan ikhlas menolong.

Dan senantiasa pula Allaah membimbing kita untuk selalu mengingat Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya pada Allaah SWT.

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك .

Semoga bermanfaat 

Ponpes Riyadhussalam Mandalawangi Pandeglang

READ MORE - Kecil, TAPI MENYELAMATKAN
Baca Selanjutnya - Kecil, TAPI MENYELAMATKAN

Rabu, 06 November 2013

Saudariku... Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab ? -- Bagian 2 --

Belajarlah Mencintai Jilbabmu

Duhai jilbab yang masih terlipat,
jadilah perisai dan tabir untuk diriku,
Mengukir simbol kehormatan dan kesucianku,
Menjelmalah laksana rumah berjalan untukku,
Dan kusematkan setangkai cinta untukmu…
Saudariku, jadikanlah jilbab seperti bagian dari dirimu, yang jika tanpanya, engkau merasa tidak sempurna. Jadikanlah dia penutup auratmu yang lebih baik dari sekedar pakaianmu. Jadikanlah dia sebagai lambang rasa malumu yang akan memancarkan wibawamu. Jadikanlah dia sebagai simbol kehormatan dan kesucianmu yang harus engkau jaga sebaik-baiknya. Maka dengan begitu, engkau akan mencintainya tanpa engkau sadari bahwa engkau telah mencintainya.

Yang Cantik yang Berjilbab

Tak ada ajaran yang lebih memuliakan wanita daripada Islam. Dalam Islam, wanita ditempatkan sebagai makhluk yang sangat mulia. Dan Islam sangat menjaga kehormatan juga kesucian seorang wanita. Namun, di belantara fitnah saat ini, wanita yang berkomitmen untuk menjaga kesucian dirinya karena masih menjadi kaum minoritas, seringkali mendapat cemoohan, sindiran, dan cibiran dari kaum mayoritas yang awam. Bahkan, ada yang menyebut dirinya sebagai kaum feminis yang –dengan tidak disadari oleh akal sehatnya– telah menjerumuskan kaum wanita kepada lembah kehinaan yang bersampul keadilan. Wal’iyyadzubillah.

Mereka berteriak-teriak di jalanan, di media-media massa dan elektronik mengenai kesetaraan gender, keadilan terhadap hak asasi manusia, dan harkat serta martabat kaum wanita. Mereka menginginkan para wanita mereka berpakaian seronok supaya diterima oleh masyarakat –yang rusak akalnya–, mereka mencoba mengafiliasi budaya barat dengan budaya timur agar mereka dinobatkan sebagai wanita modern, wanita masa kini, wanita fashionable. Ketahuilah olehmu wahai saudariku, mereka inilah setan berwujud manusia yang pernah disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, artinya,

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia…” (Qs. Al-An’aam: 112)

Allah Ta’ala memaksudkan perkataan yang indah dalam ayat di atas adalah perkataan yang sebenarnya bathil, tetapi pemiliknya menghiasi perkataan tersebut semampunya, kemudian melontarkannya kepada pendengaran orang-orang yang tertipu, sehingga akhirnya mereka terpedaya. (Terj. Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ hal. 225)

Wanita shalihah yang kecantikannya ibarat mutiara yang terbenam dalam lumpur, masih menjadi kaum minor di kalangan masyarakat yang sudah mulai terpengaruh dengan eksistensi kaum liberal, permisif dan hedonis masa kini. Merekalah para wanita perindu Surga yang selalu nyaman tinggal di istananya. Merekalah para bidadari yan
g bersembunyi di balik tabir, kain longgar, dan lebarnya kerudung. Ketika orang mendatanginya, ia begitu khawatir jika keindahannya terlihat, dan dia tidak mungkin menjumpai tamunya dalam busana ala kadarnya yang bisa menampakkan ‘simpanan berharga’nya. Mereka masih dan akan selalu menjadi misteri bagi para lelaki asing di luar sana. Tetapi mereka berubah bagai bidadari jika bertemu dengan kekasih hati yang telah menjadi suaminya.

Tahukah engkau siapa kekasih hati sang bidadari..?

Hanyalah lelaki shalih yang berani mendamba dirinya dan hanya lelaki shalih yang memiliki nyali mempersuntingnya sekaligus meminangnya menjadi belahan hati. Sedangkan lelaki hidung belang, miskin agama, dan kurang bermoral hanya akan mendekati ‘daging-daging’ yang dijual bebas di pasaran. Para wanita yang menjajakan dirinya di pinggir-pinggir jalan, di mal-mal, di tempat-tempat dugem, dan yang sejenisnya. Sekalipun mereka tidak merasa atau tidak berniat ‘menjual diri’ mereka, akan tetapi pada hakikatnya –jika mereka mau menyadari–, merekalah ‘mangsa’ empuk para serigala manusia yang kelaparan. Maka saudariku, manakah yang lebih engkau sukai, si cantik yang diobral murah? Ataukah si shalihah yang penuh rahasia?

Fenomena Jilbab Gaul, Berpakaian Tapi Telanjang


Belakangan ini, merebak trend jilbab gaul atau kudung gaul. Anggotanya mulai dari anak-anak remaja hingga ibu-ibu yang aktif dalam berbagai kegiatan pengajian. Kalau mereka ditanya, “Jilbab apa ini namanya?” Mereka akan menjawab dengan dengan pede-nya, “Jilbab gaul..!”
Jilbab gaul ini digandrungi karena alasan modisnya. Peminatnya adalah para wanita yang sudah terlanjur berjilbab tapi tetap ingin tampil modis dan trendi. Mereka ingin celana jeans, kaos-kaos ketat dan pakaian-pakaian minim mereka masih bisa terpakai, meskipun mereka sudah berjilbab. Walhasil, para desainer kawakan yang minim akan ilmu agama, mencoba mengotak-atik ketentuan jilbab syar’i dan mewarnainya sesuka hati dengan berkiblat kepada trend mode di wilayah barat. Mereka tidak segan-segan membawakan semboyan, “Jilbab modis dan syar’i” atau “Jilbab muslimah masa kini, modis dan trendi” atau semboyan-semboyan lain yang membuat kacau pikiran dan hati para gadis remaja.
Sekarang, mari kita simak peringatan yang pernah disampaikan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,

“Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya, yaitu (1, -ed) suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor-ekor sapi betina yang mereka pakai untuk mencambuk manusia; (2,-ed) wanita-wanita yang berpakaian (namun) telanjang, yang kalau berjalan berlenggak-lenggok menggoyang-goyangkan kepalanya lagi durhaka (tidak ta’at), kepalanya seperti punuk-punuk unta yang meliuk-liuk. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak dapat mencium bau wanginya, padahal bau wanginya itu sudah tercium dari jarak sekian dan sekian.” (Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2128) dan Ahmad (no. 8673). dari jalan Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Siapakah itu wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang?
Mereka adalah para wanita yang pakaiannya tipis, transparan dan ketat, sehingga kemolekan tubuhnya terlihat. Mereka berpakaian secara zhahir (nyata), namun sebenarnya mereka bertelanjang. Karena tidak ada bedanya ketika mereka berpakaian maupun ketika mereka tidak berpakaian, sebab pakaian yang mereka kenakan tidak berfungsi sebagaimana mestinya, yakni menutupi aurat. Dan mereka adalah wanita-wanita yang menyimpang dari keta’atan kepada Allah dalam hal menjaga kemaluan serta menutupi diri mereka dari para lelaki yang bukan mahramnya. (Terj. Al-Jannatu Na’iimuhaa wat Thariiqu Ilaiha Jahannamu Ahwaaluhaa wa Ahluhaa hal. 101-103)

Nah saudariku…
Tentu engkau tidak ingin menjadi salah satu wanita yang disebutkan dalam hadits di atas bukan? Tentu engkau ingin menjadi wanita penghuni Surga yang jumlahnya hanya sedikit itu bukan? Jadi jangan sampai kehabisan tempat. Persiapkanlah tempatmu di Surga nanti mulai dari sekarang!

Akhirnya…
Apabila Allah telah mengadakan suatu ketentuan, maka sudah pasti dalam ketentuan itu terkandung kebaikan yang amat besar. Maka dengan meragukan ketentuan dan perintah-Nya, engkau telah melewatkan banyak kebaikan yang seharusnya engkau dapatkan. Coba engkau simak firman Allah yang berbunyi,

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menerapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36)

Saudariku…
Alasan apapun yang masih tersimpan dihatimu untuk tidak melaksanakan perintah berjilbab ini, janganlah engkau dengarkan dan engkau turuti. Semua itu hanyalah was-was setan yang dihembuskannya ke dalam hati-hati manusia, termasuk ke dalam hatimu. Bersegeralah menuju jalan ketakwaan, karena dengan begitu engkau akan melihat sosok lain yang jauh lebih baik dari dirimu pada hari ini. Engkau akan dengan segera mendapati rentetan kasih sayang Allah yang tidak pernah engkau sangka-sangka sebelumnya. Jadi, apa lagi yang kau tunggu? Bentangkanlah jilbabmu dan tutupilah cantikmu. Belajarlah menghargai dirimu sendiri dengan menjaga jilbabmu, maka dengan begitu orang lain pun akan ikut menghargai dirimu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya,

“Barang siapa di antara kalian mampu membuat perlindungan diri dari api Neraka meskipun hanya dengan sebiji kurma, maka lakukanlah.” (Hadits shahih. Lihat Shahih Al-Jaami’ (no. 6017). Dari jalan ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu)

Demikianlah saudariku…
Ku susun risalah ini sebagai bentuk kasih sayang terhadapmu sembari terus berdo’a semoga Allah membuka hatimu untuk menerima ‘kado istimewa’ ini dengan ikhlas. Bukan karena apa maupun karena siapa, tapi karena semata-mata engkau mengharapkan keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla terhadap dirimu. Semoga risalah yang hanya mengharap Wajah Allah ini dapat mengetuk pintu yang tertutup dan membangunkan nurani yang lama tertidur lelap, sehingga membangkitkan semangat untuk bersegera menuju ketaatan kepada Allah. Semoga Allah memasukkan dirimu, diriku, dan seluruh kaum muslimin yang berpegang teguh dalam tali agama Allah ke dalam golongan orang-orang yang ditunjuki jalan yang lurus.

Wallahul musta’an.
Sumber: Muslimah.or.id

DAFTAR PUSTAKA :
Ad’Daa wa Ad-Dawaa’ (Edisi Terjemah), Syaikhul Islam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, tahqiq Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halabi, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i.

Ensiklopedi Fiqh Wanita (Terj. Fiqhus Sunnah lin Nisaa’), Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Pustaka Ibnu Katsir.

Jilbab, Tiada Lagi Alasan Untuk Tidak Mengenakannya (Terj. Banaatunaa wal Hijab), Dr. Amaani Zakariya ar-Ramaadi, cet. Pustaka At-Tibyan.

Jilbab Wanita Muslimah Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah (Terj. Jilbab Al-Mar’atul Muslimah), Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Pustaka At-Tibyan.
Kudung Gaul, Abu Al-Ghifari, cet. Mujahid Press.

Menjadi Bidadari Cantik Ala Islam, Ummu Ahmad Rifqi, cet. Pustaka Imam Abu Hanifah.
Penyimpangan Kaum Wanita (Terj. Mukhalafat Taqa’u fiihaa an-Nisaa‘), Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin, cet. Pustaka Darul Haq.

Saudariku, Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab? (Terj. Ila Ukhti Ghairil Muhajjabah Mal Mani’ Minal Hijab?), Syaikh Abdul Hamid al-Bilaly, cet. Pustaka Darul Haq.

Surga Neraka dan Calon Penghuninya Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah (Terj. Al-Jannatu Na’iimuhaa wat Thariiqu Ilaiha Jahannamu Ahwaaluhaa wa Ahluhaa), Syaikh ‘Ali Hasan bin ‘Ali al-Halabi al-Atsari, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i.
READ MORE - Saudariku... Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab ? -- Bagian 2 --
Baca Selanjutnya - Saudariku... Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab ? -- Bagian 2 --

Saudariku... Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab ? -- Bagian 1 --

Saudariku…
 
Seorang mukmin dengan mukmin lain ibarat cermin. Bukan cermin yang memantulkan bayangan fisik, melainkan cermin yang menjadi refleksi akhlak dan tingkah laku. Kita dapat mengetahui dan melihat kekurangan kita dari saudara seagama kita. Cerminan baik dari saudara kita tentulah baik pula untuk kita ikuti. Sedangkan cerminan buruk dari saudara kita lebih pantas untuk kita tinggalkan dan jadikan pembelajaran untuk saling memperbaiki.


Saudariku…
 
Tentu engkau sudah mengetahui bahwa Islam mengajarkan kita untuk saling mencintai. Dan salah satu bukti cinta Islam kepada kita –kaum wanita– adalah perintah untuk berjilbab. Namun, kulihat engkau masih belum mengambil “kado istimewa” itu. Kudengar masih banyak alasan yang menginap di rongga-rongga pikiran dan hatimu setiap kali kutanya, “Kenapa jilbabmu masih belum kau pakai?” Padahal sudah banyak waktu kau luangkan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perintah jilbab. Sudah sekian judul buku engkau baca untuk memantapkan hatimu agar segera berjilbab. Juga ribuan surat cinta dari saudarimu yang menginginkan agar jilbabmu itu segera kau kenakan. Lalu kenapa, jilbabmu masih terlipat rapi di dalam lemari dan bukan terjulur untuk menutupi dirimu?


Mengapa Harus Berjilbab?


Mungkin aku harus kembali mengingatkanmu tentang alasan penting kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan perintah jilbab kepada kita –kaum Hawa- dan bukan kepada kaum Adam. Saudariku, jilbab adalah pakaian yang berfungsi untuk menutupi perhiasan dan keindahan dirimu, agar dia tidak dinikmati oleh sembarang orang. Ingatkah engkau ketika engkau membeli pakaian di pertokoan, mula-mula engkau melihatnya, memegangnya, mencobanya, lalu ketika kau jatuh cinta kepadanya, engkau akan meminta kepada pemilik toko untuk memberikanmu pakaian serupa yang masih baru dalam segel. Kenapa demikian? Karena engkau ingin mengenakan pakaian yang baru, bersih dan belum tersentuh oleh tangan-tangan orang lain. Jika demikian sikapmu pada pakaian yang hendak engkau beli, maka bagaimana sikapmu pada dirimu sendiri? Tentu engkau akan lebih memantapkan ‘segel’nya, agar dia tetap ber’nilai jual’ tinggi, bukankah demikian? Saudariku, izinkan aku sedikit mengingatkanmu pada firman Rabb kita ‘Azza wa Jalla berikut ini,


“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31)


Dan firman-Nya, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)


Saudariku tercinta, Allah tidak semata-mata menurunkan perintah jilbab kepada kita tanpa ada hikmah dibalik semuanya. Allah telah mensyari’atkan jilbab atas kaum wanita, karena Allah Yang Maha Mengetahui menginginkan supaya kaum wanita mendapatkan kemuliaan dan kesucian di segala aspek kehidupan, baik dia adalah seorang anak, seorang ibu, seorang saudari, seorang bibi, atau pun sebagai seorang individu yang menjadi bagian dari masyarakat. Allah menjadikan jilbab sebagai perangkat untuk melindungi kita dari berbagai “virus” ganas yang merajalela di luar sana. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,

“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.” (Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173), Ibnu Khuzaimah (III/95) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 10115), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma)


Saudariku, berjilbab bukan hanya sebuah identitas bagimu untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang muslimah. Tetapi jilbab adalah suatu bentuk ketaatanmu kepada Allah Ta’ala, selain shalat, puasa, dan ibadah lain yang telah engkau kerjakan. Jilbab juga merupakan konsekuensi nyata dari seorang wanita yang menyatakan bahwa dia telah beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, jilbab juga merupakan lambang kehormatan, kesucian, rasa malu, dan kecemburuan. Dan semua itu Allah jadikan baik untukmu. Tidakkah hatimu terketuk dengan kasih sayang Rabb kita yang tiada duanya ini?


“Aku Belum Berjilbab, Karena…”


1. “Hatiku masih belum mantap untuk berjilbab. Jika hatiku sudah mantap, aku akan segera berjilbab. Lagipula aku masih melaksanakan shalat, puasa dan semua perintah wajib kok..”


Wahai saudariku… Sadarkah engkau, siapa yang memerintahmu untuk mengenakan jilbab? Dia-lah Allah, Rabb-mu, Rabb seluruh manusia, Rabb alam semesta. Engkau telah melakukan berbagai perintah Allah yang berpangkal dari iman dan ketaatan, tetapi mengapa engkau beriman kepada sebagian ketetapan-Nya dan ingkar terhadap sebagian yang lain, padahal engkau mengetahui bahwa sumber dari semua perintah itu adalah satu, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala?


Seperti shalat dan amalan lain yang senantiasa engkau kerjakan, maka berjilbab pun adalah satu amalan yang seharusnya juga engkau perhatikan. Allah Ta’ala telah menurunkan perintah hijab kepada setiap wanita mukminah. Maka itu berarti bahwa hanya wanita-wanita yang memiliki iman yang ridha mengerjakan perintah ini. Adakah engkau tidak termasuk ke dalam golongan wanita mukminah?


Ingatlah saudariku, bahwa sesungguhnya keadaanmu yang tidak berjilbab namun masih mengerjakan amalan-amalan lain, adalah seperti orang yang membawa satu kendi penuh dengan kebaikan akan tetapi kendi itu berlubang, karena engkau tidak berjilbab. Janganlah engkau sia-siakan amal shalihmu disebabkan orang-orang yang dengan bebas di setiap tempat memandangi dirimu yang tidak mengenakan jilbab. Silakan engkau bandingkan jumlah lelaki yang bukan mahram yang melihatmu tanpa jilbab setiap hari dengan jumlah pahala yang engkau peroleh, adakah sama banyaknya?


2. “Iman kan letaknya di hati. Dan yang tahu hati seseorang hanya aku dan Allah.”


Duhai saudariku…Tahukah engkau bahwa sahnya iman seseorang itu terwujud dengan tiga hal, yakni meyakini sepenuhnya dengan hati, menyebutnya dengan lisan, dan melakukannya dengan perbuatan?


Seseorang yang beramal hanya sebatas perbuatan dan lisan, tanpa disertai dengan keyakinan penuh dalam hatinya, maka dia termasuk ke dalam golongan orang munafik. Sementara seseorang yang beriman hanya dengan hatinya, tanpa direalisasikan dengan amal perbuatan yang nyata, maka dia termasuk kepada golongan orang fasik. Keduanya bukanlah bagian dari golongan orang mukmin. Karena seorang mukmin tidak hanya meyakini dengan hati, tetapi dia juga merealisasikan apa yang diyakininya melalui lisan dan amal perbuatan. Dan jika engkau telah mengimani perintah jilbab dengan hatimu dan engkau juga telah mengakuinya dengan lisanmu, maka sempurnakanlah keyakinanmu itu dengan bersegera mengamalkan perintah jilbab.


3. “Aku kan masih muda…”


Saudariku tercinta… Engkau berkata bahwa usiamu masih belia sehingga menahanmu dari mengenakan jilbab, dapatkah engkau menjamin bahwa esok masih untuk dirimu? Apakah engkau telah mengetahui jatah hidupmu di dunia, sehingga engkau berkata bahwa engkau masih muda dan masih memiliki waktu yang panjang? Belumkah engkau baca firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya,


“Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, jika kamu sesungguhnya mengetahui.” (Qs. Al-Mu’minuun: 114)


“Pada hari mereka melihat adzab yang diancam kepada mereka, (mereka merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) waktu pelajaran yang cukup.” (Qs. Al-Ahqaaf: 35)


Tidakkah engkau perhatikan tetanggamu atau teman karibmu yang seusia denganmu atau di bawah usiamu telah menemui Malaikat Maut karena perintah Allah ‘Azza wa Jalla? Tidakkah juga engkau perhatikan si fulanah yang kemarin masih baik-baik saja, tiba-tiba menemui ajalnya dan menjadi mayat hari ini? Tidakkah semua itu menjadi peringatan bagimu, bahwa kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sekarat atau pun orang yang lanjut usia? Dan Malaikat Maut tidak akan memberimu penangguhan waktu barang sedetik pun, ketika ajalmu sudah sampai. Setiap hari berlalu sementara akhiratmu bertambah dekat dan dunia bertambah jauh. Bekal apa yang telah engkau siapkan untuk hidup sesudah mati? Ketahuilah saudariku, kematian itu datangnya lebih cepat dari detak jantungmu yang berikutnya. Jadi cepatlah, jangan sampai terlambat…


4. “Jilbab bikin rambutku jadi rontok…”


Sepertinya engkau belum mengetahui fakta terbaru mengenai ‘canggih’nya jilbab. Dr. Muhammad Nidaa berkata dalam Al-Hijaab wa Ta’tsiruuha ‘Ala Shihhah wa Salamatus Sya’ri tentang pengaruh jilbab terhadap kesehatan dan keselamatan rambut,

“Jilbab dapat melindungi rambut. Penelitian dan percobaan telah membuktikan bahwa perubahan cuaca dan cahaya matahari langsung akan menyebabkan hilangnya kecantikan rambut dan pudarnya warna rambut. Sehingga rambut menjadi kasar dan berwarna kusam. Sebagaimana juga udara luar (oksigen) dan hawa tidaklah berperan dalam pertumbuhan rambut. Karena bagian rambut yang terlihat di atas kepala yang dikenal dengan sebutan batang rambut tidak lain adalah sel-sel kornea (yang tidak memiliki kehidupan). Ia akan terus memanjang berbagi sama rata dengan rambut yang ada di dalam kulit. Bagian yang aktif inilah yang menyebabkan rambut bertambah panjang dengan ukuran sekian millimeter setiap hari. Ia mendapatkan suplai makanan dari sel-sel darah dalam kulit.


Dari sana dapat kita katakan bahwa kesehatan rambut bergantung pada kesehatan tubuh secara umum. Bahwa apa saja yang mempengaruhi kesehatan tubuh, berupa sakit atau kekurangan gizi akan menyebabkan lemahnya rambut. Dan dalam kondisi mengenakan jilbab, rambut harus dicuci dengan sabun atau shampo dua atau tiga kali dalam sepekan, menurut kadar lemak pada kulit kepala. Maksudnya apabila kulit kepala berminyak, maka hendaklah mencuci rambut tiga kali dalam sepekan. Jika tidak maka cukup mencucinya dua kali dalam sepekan. Jangan sampai kurang dari kadar ini dalam kondisi apapun. Karena sesudah tiga hari, minyak pada kulit kepala akan berubah menjadi asam dan hal itu akan menyebabkan patahnya batang rambut, dan rambut pun akan rontok.” (Terj. Banaatunaa wal Hijab hal. 66-67)


5. “Kalau aku pakai jilbab, nanti tidak ada laki-laki yang mau menikah denganku. Jadi, aku pakai jilbabnya nanti saja, sesudah menikah.”


Wahai saudariku… Tahukah engkau siapakah lelaki yang datang meminangmu itu, sementara engkau masih belum berjilbab? Dia adalah lelaki dayyuts, yang tidak memiliki perasaan cemburu melihatmu mengobral aurat sembarangan. Bagaimana engkau bisa berpendapat bahwa setelah menikah nanti, suamimu itu akan ridha membiarkanmu mengulur jilbab dan menutup aurat, sementara sebelum pernikahan itu terjadi dia masih santai saja mendapati dirimu tampil dengan pakaian ala kadarnya? Jika benar dia mencintai dirimu, maka seharusnya dia memiliki perasaan cemburu ketika melihat auratmu terbuka barang sejengkal saja. Dia akan menjaga dirimu dari pandangan liar lelaki hidung belang yang berkeliaran di luar sana. Dia akan lebih memilih dirimu yang berjilbab daripada dirimu yang tanpa jilbab. Inilah yang dinamakan pembuktian cinta yang hakiki!


Maka, jika datang seorang lelaki yang meminangmu dan ridha atas keadaanmu yang masih belum berjilbab, waspadalah. Jangan-jangan dia adalah lelaki dayyuts yang menjadi calon penghuni Neraka. Sekarang pikirkanlah olehmu saudariku, kemanakah bahtera rumah tanggamu akan bermuara apabila nahkodanya adalah calon penghuni Neraka?


6. “Pakai jilbab itu ribet dan mengganggu pekerjaan. Bisa-bisa nanti aku dipecat dari pekerjaan.”


Saudariku… Islam tidak pernah membatasi ruang gerak seseorang selama hal tersebut tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah. Akan tetapi, Islam membatasi segala hal yang dapat membahayakan seorang wanita dalam melakukan aktivitasnya baik dari sisi dunia maupun dari sisi akhiratnya. Jilbab yang menjadi salah satu syari’at Islam adalah sebuah penghargaan sekaligus perlindungan bagi kaum wanita, terutama jika dia hendak melakukan aktivitas di luar rumahnya. Maka dengan perginya engkau untuk bekerja di luar rumah tanpa jilbab justru akan mendatangkan petaka yang seharusnya dapat engkau hindari. Alih-alih mempertahankan pekerjaan, engkau malah menggadaikan kehormatan dan harga dirimu demi setumpuk materi.

Tahukah engkau saudariku, siapa yang memberimu rizki? Bukankah Allah -Rabb yang berada di atas ‘Arsy-Nya- yang memerintahkan para malaikat untuk membagikan rizki kepada setiap hamba tanpa ada yang dikurangi barang sedikitpun? Mengapa engkau lebih mengkhawatirkan atasanmu yang juga rizkinya bergantung kepada kemurahan Allah?


Apakah jika engkau lebih memilih untuk tetap tidak berjilbab, maka atasanmu itu akan menjamin dirimu menjadi calon penghuni Surga? Ataukah Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menurunkan perintah ini kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan mengadzabmu akibat kedurhakaanmu itu? Pikirkanlah saudariku… Pikirkanlah hal ini baik-baik!


7. “Jilbab itu bikin gerah, dan aku tidak kuat kepanasan.”


Saudariku… Panas mentari yang engkau rasakan di dalam dunia ini tidak sebanding dengan panasnya Neraka yang akan kau terima kelak, jika engkau masih belum mau untuk berjilbab. Sungguh, dia tidak sebanding. Apakah engkau belum mendengar firman Allah yang berbunyi,


“Katakanlah: ‘(Api) Neraka Jahannam itu lebih sangat panas. Jika mereka mengetahui.’” (Qs. At-Taubah: 81)


Dan sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,

“Sesungguhnya api Neraka Jahannam itu dilebihkan panasnya (dari panas api di bumi sebesar) enam puluh sembilan kali lipat (bagian).” [Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2843) dan Ahmad (no. 8132). Lihat juga Shahih Al-Jaami' (no. 6742), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]


Manakah yang lebih sanggup engkau bersabar darinya, panasnya matahari di bumi ataukah panasnya Neraka di akhirat nanti? Tentu engkau bisa menimbangnya sendiri…


8. “Jilbab itu pilihan. Siapa yang mau pakai jilbab silakan, yang belum mau juga gak apa-apa. Yang penting akhlaknya saja benar.”


Duhai saudariku… Sepertinya engkau belum tahu apa yang dimaksud dengan akhlak mulia itu. Engkau menafikan jilbab dari cakupan akhlak mulia, padahal sudah jelas bahwa jilbab adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak mulia. Jika tidak, maka Allah tidak akan memerintahkan kita untuk berjilbab, karena dia tidak termasuk ke dalam akhlak mulia.


Pikirkanlah olehmu baik-baik, adakah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berakhlak buruk? Atau adakah Allah mengadakan suatu ketentuan yang tidak termasuk dalam kebaikan dan mengandung manfaat yang sangat besar? Jika engkau menjawab tidak ada, maka dengan demikian engkau telah membantah pendapatmu sendiri dan engkau telah setuju bahwa jilbab termasuk ke dalam sekian banyak akhlak mulia yang harus kita koleksi satu persatu. Bukankah demikian?


Ketahuilah olehmu, keputusanmu untuk tidak mengenakan jilbab akan membuat Rabb-mu menjadi cemburu, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya,


“Sesungguhnya Allah itu cemburu dan seorang Mukmin juga cemburu. Adapun cemburunya Allah disebabkan oleh seorang hamba yang mengerjakan perkara yang diharamkan oleh-Nya.” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 4925) dan Muslim (no. 2761)]


9. “Sepertinya Allah belum memberiku hidayah untuk segera berjilbab.”


Saudariku… Hidayah Allah tidak akan datang begitu saja, tanpa engkau melakukan apa-apa. 
Engkau harus menjalankan sunnatullah, yakni dengan mencari sebab-sebab datangnya hidayah tersebut.


Ketahuilah bahwa hidayah itu terbagi menjadi dua, yaitu hidayatul bayan dan hidayatut taufiq. Hidayatul bayan adalah bimbingan atau petunjuk kepada kebenaran, dan di dalamnya terdapat campur tangan manusia. Adapun hidayatut taufiq adalah sepenuhnya hak Allah. Dia merupakan peneguhan, penjagaan, dan pertolongan yang diberikan Allah kepada hati seseorang agar tetap dalam kebenaran. Dan hidayah ini akan datang setelah hidayatul bayan dilakukan.


Janganlah engkau jual kebahagiaanmu yang abadi dalam Surga kelak dengan dunia yang fana ini. Buanglah jauh-jauh perasaan was-wasmu itu. Tempuhlah usaha itu dengan berjilbab, sementara hatimu terus berdo’a kepada-Nya, “Allahummahdini wa saddidni. Allahumma tsabit qolbi ‘ala dinik (Yaa Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah diriku. Yaa Allah, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).”


Insya Allah bersambung
READ MORE - Saudariku... Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab ? -- Bagian 1 --
Baca Selanjutnya - Saudariku... Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab ? -- Bagian 1 --

Sabtu, 06 Juli 2013

Bebeapa Kiat Menghadapi Bulan Suci Ramadhan



BEBERAPA KIAT MENGHADAPI BULAN SUCI RAMADHAN
Agar Puasa Kita Lebih Berwarna
Bismillahirrohman nirrohim
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Qur'an kepada Rasul-Nya Muhammad Saw. di bulan Ramadhan, sebagai petunjuk (al-huda) bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil (al-furqon).
Alhamdulillah, tamu agung Ramadhan sebentar lagi akan tiba, sudah siapkah kita untuk menyambutnya? Mungkinkah ini Ramadhan terakhir kita sebelum menghadap kepada Allah Yang Maha Kuasa. Betapa saudara kita yang pada tahun kemarin masih berpuasa bersama kita, melakukan shalat tarawih dan Iedul Fithri di samping kita, namun ternyata sudah mendahului kita dan sekarang mereka telah berbaring di ‘peristirahatan umum’ ditemani hewan-hewan tanah. Kapankah datang giliran kita?
Dalam dua buah hadits, Rasulullah Saw. menggambarkan dua golongan kondisi manusia yang saling bertolak belakang dalam menunaikan ibadah berpuasa dan melewati bulan suci Ramadhan ini. Golongan pertama digambarkan oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya, yaitu :
مَنَ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Golongan kedua digambarkan oleh beliau Saw. dalam sabdanya, yaitu :
رُبَّ صَائِمٍ حَظَّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah).
Pertanyaannya, golongan manakah kita ini ? apakah termasuk golongan yang pertama atau yang kedua. Tentunya sangat tergantung amal dan usaha kita dan juga petunjuk, taufik dan inayah dari Allah Swt.
Bulan Ramadhan merupakan momentum agung dari ladang-ladang yang sarat dengan keistimewaan, satu even sebagai media kompetisi bagi para pelaku kebaikan dan orang-orang mulia yang senantiasa berharap ampunan dan rahmat Allah Swt. Karena itu, agar kita benar-benar merasakan indah dan nikmatnya bulan suci ini, seyogyanya kita memahami betul, kiat-kiat apa saja yang harus kita persiapkan dalam menyongsong musim limpahan rahmat dan kebaikan ini. Adapun kiat-kiat yang telah banyak diajarkan oleh para ulama dan guru-guru kita itu, di antaranya adalah sebagai berikut :
1.      Menunaikan Ibadah Puasa Berdasarkan Ilmunya.
Dalam perspektif ajaran Islam, ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sangat berharga yang menentukan kualitas seseorang atau suatu bangsa. Suatu bangsa akan menjadi bangsa yang maju, modern, dan berperadaban, manakala masyarakatnya mencintai ilmu, antara lain, ditandai dengan kebiasaan bertanya dan menulis.
Orang yang diberi berkesempatan oleh Allah untuk mencari ilmu, tetapi tidak mau memanfaatkannya, sehingga ia tetap berada dalam kebodohannya, maka dianggap orang yang paling akan merugi kelak di kemudian hari. Terlebih lagi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ibadah-ibadah (khusus) yang kita lakukan dalam rangka melaksanakan kewajiban kita pada Allah Swt. seperti shalat, puasa, zakat dan ibadah haji. Karena ibadahnya orang yang bodoh (sama sekali tidak memiliki pengetahuan terhadap apa yang dikerjakannya) bukan saja akan ditolak oleh Allah Swt. tetapi juga dianggap sebagai penyakit agama yang sangat berbahaya.
Apalagi kesalahan yang dilakukannya secara sadar dan sengaja, dan disebarkan kepada orang lain. Misalnya, khutbah Jumat yang dilakukan oleh seorang perempuan dengan mengatasnamakan persamaan gender dan emansipasi, dan bacaan dalam shalat yang disertai terjemahannya dengan mengatasnamakan untuk kekhusyukan dan kesyahduan, mencerminkan kebodohan para pelakunya terhadap kegiatan ibadah khusus tersebut. Maka tugas kita dalam bidang ibadah adalah sami'na wa atho'na (kami mendengar dan kami mena'ati) dan ittiba' (mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah Saw).
Dalam hal shalat misalnya, Rasulullah Saw.bersabda:
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي
''Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat". (HR. Bukhari)
Jika seseorang atau sekelompok orang mengerjakan ibadah khusus seperti shalat, menyalahi tata cara (kaifiyat) yang telah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah Saw, para sahabat Nabi yang mulia, dan para Ulama Ahlussunnah yang terpercaya keilmuannya, maka dianggap telah melakukan perusakan dan penyelewengan dalam agama,  sebagaimana dinyatakan dalam oleh Bukhari dan Muslim dari Siti Aisyah r.a. (istri Rasulullah Saw), bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda :
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
''Barangsiapa yang membuat hal-hal yang baru dalam urusan ibadahku ini, maka hukumnya tertolak".
Begitu juga dalam menunaikan ibadah puasa, maka ilmu tentang 'seluk beluk' puasa harus kita pelajari dan pahami terlebih dahulu. Sahabat Nabi Mu’adz bin Jabal r.a. pernah mengatakan:
اَلْعِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ
“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Lihat kitab Qawaidul Muhimmah Fii al Amru bi al- Ma’ruf wan Nahyu ‘an al-Mungkar, karya Dr. Hamud bin Ahmad Ar-Rahily, 1/15)
Ulama di bidang hadits terkemuka, Al-Imam Al-Bukhari pernah berkata, “Al-‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu itu Sebelum Berkata dan Berbuat)”.
Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah Swt. yaitu:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
“Maka ilmuilah (ketahuilah) ! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad/47 : 19)
Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.
Imam Ibnul Munir rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan oleh Al-Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan. Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Sedangkan niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.” (Lihat kitab Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari, karya Ibnu Hajar Al-Ashqalani, 1/108)
"Saha jalma-saha jalma ibadah teu jeung elmuna, eta tangtu-eta tangtu amalna moal ditarima", uangkapan orang tua kita dengan bahasa sunda ini ternyata sangat dalam maknanya. Dengan pengertian 'tidak ada amal tanpa ilmu'. Namun sangat kita sayangkan, jika kita cermati dengan jujur, hampir semua tatacara ibadah masyarakat kita –khususnya masyarakat awwam- termasuk di dalamnya ibadah puasa Ramadhan dari hulu sampai ke hilir, sarat dengan berbagai kesalahan yang sudah mendarang-mendaging menjadi fenomena setiap bulan Ramadhan tiba.
Contoh dari kekeliruan itu misalnya jika tiba waktu shalat tarawih, bacaan fatihahnya cepat sekali, bahkan seringkali satu tarikan napas, kemudian bacaan 'amin'nya kencang dan teriak keras sekali. Jika 'amin'nya tidak kencang dan teriak keras, tidak dianggap shalat tarawih namanya, tetapi dianggap shalat biasa. Tidak lucu kalau tarawih 'amin'nya lembut seperti shalat biasa. Pada gilirannya, shalat tarawih itu identik dengan shalat main-main dan senang-senang. Sampai ada anak remaja yang berkata kepada temannya: "kamu mah tarawih kaya shalat aja, serius amat...." Maksudnya koq tarawihnya ga sambil bercanda… (subhanallah).
Padahal shalat tarawih merupakan ibadah  yang sangat besar pahalanya. Pahala akan kita dapatkan, makanala dalam pelaksanaannya kita mengikuti dan mencontoh tuntunan Rasulullah Saw, bukan 'malah' menyalahi atau menyelesihinya. Karena tidak pernah ada keterangan dari beliau Saw. yang menyuruh para sahabatnya yang mulia melaksankan tarawih seperti itu. Oleh karena itu, tidak ada jalan yang paling selamat dalam beribadah kepada Allah selain kembali kepada ajaran, tuntunan dan contoh dari Rasulullah Saw. para sahabat rahimakumullah maupun orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (para ulama Ahlussunnah).
Di sinilah haad (batas) agama Islam yang tidak boleh diusik dan ditoleransi oleh unsur luar manapun yang menyimpang dari risalah (agama) Allah Swt. dan Rasul-Nya. Semoga kita semua terus-menerus mau belajar menambah ilmu pengetahuan, khususnya Ilmu Agama (Ilmu Syari'at), sehingga kita terhindar dari pekerjaan dan ibadah yang dianggap sia-sia dan ditolak oleh Allah Swt. dan membahayakan kita, keluarga kita, dan kehidupan kaum Muslimin-muslimat secara luas.
2.      Bertawakal kepada Allah Swt.
Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah pernah memaparkan bahwa para ulama telah bersepakat, salah satu indikasi taufik Allah Swt. kepada hamba-Nya adalah pertolongan Allah Swt. kepada hamba-Nya. Dan sebaliknya, salah satu ciri kenistaan seorang hamba adalah kebergantungannya kepada kemampuan diri sendiri.
Maka menghadirkan rasa tawakal kepada Allah Swt. adalah merupakan suatu hal yang paling penting untuk menyongsong musim-musim ibadah semacam ini; untuk menumbuhkan rasa lemah, tidak berdaya dan tidak akan mampu menunaikan ibadah dengan sempurna, melainkan semata dengan taufik dari Allah Swt. Selanjutnya kita juga harus berdoa kepada Allah Swt. agar dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan dan supaya Allah Swt. berkenan membantu kita dalam memperbanyak amal sholeh di dalamnya.
Ini semua merupakan amalan yang paling agung yang dapat mendatangkan taufik dari Allah Swt. dalam menjalani bulan suci Ramadhan. Kita amat perlu untuk senantiasa memohon pertolongan Allah Swt. ketika akan beramal karena kita adalah manusia yang disifati oleh Allah ta’ala sebagai makhluk yang lemah:
وَخُلِقَ الإنْسَانُ ضَعِيفًا
“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.”(Q.S. An-Nisaa/4:28)
Maka jika kita bertawakal kepada Allah dan memohon kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi taufik-Nya pada kita.
Di saat mengerjakan amalan ibadah, hal yang perlu diperhatikan seorang hamba adalah: ikhlas dan ittiba' (mengikuti petunjuk Rasulullah Swt. Dua hal inilah yang merupakan dua syarat diterimanya suatu amalan di sisi Allah. Banyak ayat dan hadits yang menegaskan hal ini. Di antaranya: Firman Allah Swt.
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidaklah diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah/98 : 5)
Dan sabda Rasulullah Saw.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ
“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu akan tertolak.” (HR. Muslim)
Demikian pula setelah usai beramal, kita membutuhkan banyak istigfar atas kurang sempurnanya dalam beramal, dan juga butuh untuk memperbanyak hamdalah (pujian) kepada Allah Yang telah memberinya taufik sehingga bisa beramal.  Apabila seorang hamba bisa mengombinasikan antara hamdalah dan istighfar, maka dengan izin Allah Swt. amalan tersebut akan diterima oleh-Nya.
Hal ini perlu diperhatikan betul-betul, karena setan senantiasa mengintai manusia sampai detik akhir setelah selesai amal sekalipun. Makhluk ini mulai menghias-hiasi amalannya sambil membisikkan:
“Hai fulan, kau telah berbuat begini dan begitu… Kau telah berpuasa Ramadhan… Kau telah shalat malam di bulan suci… Kau telah mengeluarkan banyak shadaqah/infak dan telah menunaikan amalan ini dan itu dengan sempurna…”
Dan terus menghias-hiasinya terhadap seluruh amalan yang telah dilakukan sehingga tumbuhlah rasa ‘ujub (sombong dan takjub kepada diri sendiri) yang mengantarkannya ke dalam lembah kehinaan. Juga akan berakibat terkikisnya rasa tawadhu' (rasa rendah diri) dan rasa tunduk dan takut kita kepada Allah Swt.
Seharusnya kita tidak terjebak dalam perangkap ‘ujub; pasalnya, orang yang merasa silau dengan dirinya sendiri (bisa begini dan begitu) serta silau dengan amalannya berarti dia telah menunjukkan kenistaan, kehinaan dan kekurangan diri serta amalannya. Maka berhati-hatilah dengan tipu daya setan yang telah bersumpah dan Allah Swt. abadikan dalam firman-Nya:
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأقْعُدَنَّ لَهمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. (QS. Al-A’raf/7 : 16-17)
3.      Bertaubat Sebelum Ramadhan Tiba
Banyak sekali keterangan yang shohih dari agama (dalil) yang memerintahkan seorang hamba untuk bertaubat, di antaranya: firman Allah Swt.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ.
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At Tahrim/66 : 8)
Kita diperintahkan untuk senantiasa bertaubat, karena tidak ada seorang pun di antara kita yang terbebas dari dosa-dosa. Rasul Saw. pernah mengingatkan dalam sebuah sabdanya:
كُلَّ بَنىِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرَ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
“Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Ketahuilah, bahwa dosa hanya akan mengasingkan seorang hamba dari taufik dan hidayah Allah Swt., sehingga dia tidak kuasa untuk beramal saleh, ini semua hanya merupakan sebagian kecil dari segudang dampak buruk dosa dan maksiat. Namun apabila ternyata seorang hamba mau bertaubat kepada Allah Swt. maka prahara itu akan sirna dan Allah akan menganugerahi taufik, inayah dan hidayah kembali kepadanya.
Adapun hakikat dari Taubat Nasuha atau taubat yang sebenar-benarnya, adalah: bertaubat kepada Allah dari seluruh jenis dosa. Imam Nawawi rahimahullah menjabarkan taubat yang sempurna adalah taubat yang memenuhi 4 (empat) syarat, yaitu:
-          Meninggalkan maksiat.
-          Menyesali kemaksiatan yang telah ia perbuat.
-          Bertekad bulat untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya.
-          Seandainya maksiat itu berkaitan dengan hak orang lain (haqqul adamiy), maka dia harus mengembalikan hak itu kepadanya, atau memohon maaf darinya (Lihat kitab Riyaadhush Shaalihiin, karya Imam an-Nawawi, hal. 37-38).
Ada suatu kesalahan yang harus diwaspadai, sebagian orang terkadang betul-betul ingin bertaubat dan bertekad bulat untuk tidak berbuat maksiat, namun hanya di bulan Ramadhan saja, setelah bulan suci ini berlalu dia kembali berbuat maksiat. Sebagaimana taubatnya para artis yang ramai-ramai berjilbab di bulan Ramadhan, namun setelah itu kembali ‘pamer aurat’ sehabis Hari Raya Iedul Fithri (Na'udzubillah).
Seharusnya, tekad bulat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa dan melepaskan diri dari maksiat, harus tetap menyala dan berkobar baik di dalam Ramadhan maupun di bulan-bulan sesudahnya.
4.      Membentengi Puasa Kita dari Faktor-Faktor yang Mengurangi Kesempurnaan Puasa dan Keutuhan Pahalanya.
Sisi lain yang harus mendapatkan perhatian kita adalah bagaimana kita berusaha membentengi puasa kita dari faktor-faktor yang dapat mengurangi kesempurnaan puasa dan keutuhan pahalanya. Seperti menggunjing dan berdusta. Dua penyakit ini mengandung konsekueansi yang sangat berkategori bahaya tinggi, dan sedikit sekali orang yang selamat dari ancamannya. Rasulullah Saw. mengingatkan kita melalui sabdanya:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ  ِللهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya, maka niscaya Allah tidak akan membutuhkan penahanan dirinya dari makanan dan minuman. (Maksudnya: Allah tidak membutuhkan puasanya). (HR. Bukhari)
Orang yang menahan lisannya dari ghibah (berkata dusta) dan matanya dari memandang hal-hal yang haram ketika menunaikan puasa Ramadhan tanpa mengiringinya dengan amalan-amalan sunnah, lebih baik daripada orang yang berpuasa plus menghidupkan amalan-amalan sunnah, namun dia tidak berhenti dari dua budaya buruk tadi. Diakui atau tidak, inilah realita mayoritas masyarakat; kita yang ketaatannya kepada Allah Swt. bercampur dengan kemaksiatan.
5.      Memprioritaskan Amalan yang Wajib
Hendaknya orang yang berpuasa itu memprioritaskan amalan yang wajib. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt. adalah amalan-amalan yang wajib. Rasulullah Saw. pernah menjelaskan dalam suatu hadits qudsi, yaitu:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ
“Dan tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan-amalan yang Ku-wajibkan.” (HR. Bukhari).
Di antara aktivitas yang paling wajib dilaksanakan pada bulan Ramadhan adalah: mendirikan shalat berjamaah lima waktu di masjid (bagi kaum pria), berusaha sekuat tenaga untuk tidak ketinggalan takbiratul ihram. Kemuliaan ini telah diuraikan dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. bersabda:
مَنْ صَلَّى ِللهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ اْلأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ
“Barang siapa yang shalat karena Allah selama empat puluh hari dengan berjama’ah dan selalu mendapatkan takbiratul ihram imam, akan dituliskan baginya dua ‘jaminan surat kebebasan’ bebas dari api neraka dan dari nifaq.” (HR. Tirmidzi)
Seandainya kita termasuk orang-orang yang amalan sunnahnya tidak banyak pada bulan puasa, maka setidaknya kita berusaha untuk memelihara shalat lima waktu dengan baik, dikerjakan secara berjamaah di masjid, serta berusaha sesegera mungkin berangkat ke masjid sebelum tiba waktunya. Sesungguhnya menjaga amalan-amalan yang wajib di bulan Ramadhan adalah suatu bentuk ibadah dan taqarrub yang paling agung kepada Allah Azza wa Jalla.
Sungguh sangat memprihatinkan, tatkala kita dapati orang yang melaksanakan shalat tarawih dengan penuh semangat, bahkan hampir-hampir tidak pernah absen, namun yang disayangkan, ternyata dia tidak menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah. Terkadang bahkan tidur, melewatkan shalat wajib dengan dalih sebagai persiapan diri untuk shalat tarawih. Ini jelas-jelas merupakan suatu kekeliruan dan bentuk peremehan terhadap kewajiban.
Sungguh hanya mendirikan shalat lima waktu berjamaah tanpa diiringi shalat tarawih satu malam, lebih baik daripada mengerjakan shalat tarawih atau shalat malam, namun berdampak menyia-nyiakan shalat lima waktu. Bukan berarti kita memandang sebelah mata shalat tarawih, akan tetapi seharusnya seorang muslim menggabungkan kedua-duanya; memberikan perhatian khusus terhadap amalan-amalan yang wajib seperti shalat lima waktu, lalu baru melangkah menuju amalan-amalan yang sunnah seperti shalat tarawih. (Pembahasan secara tuntas  hal ihwal Shalat Tarawih, apakah bilangannya yang 11 raka'at atau yang 23 raka'at dan atau bahkan ada yang 36 raka'at, telah dibahas dengan disertai dalil-dalilnya dari para ulama di buku Mutiara Ramadhan, karya Abd. Wahid Al-Faqier, 2010). 

6.      Berusaha untuk Mendapatkan Lailatul Qadar
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah kita harus berusaha sekuat tenaga untuk bisa meraih lailatul qadar.  Betapa informasi dari Allah Swt. dan Rasul-Nya juga para sahabat yang mulia—yang  sampai ke pendengaran kita—, terdapat segunung keutamaan yang dimiliki malam mulia ini, sepantasnya kita memanfaatkan kesempatan emas ini untuk meraihnya.
Di malam ke berapakah lailatul qadar akan jatuh? Malam lailatul qadar akan jatuh pada malam-malam sepuluh akhir bulan Ramadhan. Demikian sabda Rasulullah Saw. menjelaskan. Kemudian Rasulullah Saw. menambahkan bahwa lailatul qadar terdapat di malam-malam yang ganjil.
Tapi di malam manakah di antara malam-malam yang ganjil itu ? Apakah di malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 atau malam 29. Untuk mendapatkan jawaban yang tuntas berikut penjelasan-penjelasan dari para ulama tentang masalah tersebut, kita akan mendapatkannya di buku Mutiara Ramadhan sebagaimana telah disebutkan di atas.
7.      Menjadikan Ramadhan Sebagai Madrasah
Bulan suci Ramadhan ibarat madrasah keimanan, di dalamnya kita belajar mendidik diri untuk rajin beribadah, dengan harapan setelah kita menjadi alumni madrasah itu, kebiasaan rajin beribadah akan terus membekas dalam diri kita hingga kita menghadap kepada Allah Swt. Allah Subhanahu wata'ala memerintahkan:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabbmu sampai keyakinan (ajal) datang kepadamu.” (QS. Al-Hijr/15 : 99)
Ketika seorang ulama besar bernama al-Hasan al-Bashri membaca ayat ini beliau menjelaskan,
إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ لِعَمَلِ الْمُؤْمِنِ أَجَلاً دُوْنَ الْمَوْتِ
“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batas akhir bagi amal seorang Mukmin melainkan ajalnya.”
Maka jangan sampai amal ibadah kita turut berakhir dengan berakhirnya Ramadhan. Kebiasaan kita untuk berpuasa, shalat lima waktu berjamaah di masjid, shalat malam, memperbanyak membaca Al-Qur’an, doa dan zikir, rajin menghadiri majelis taklim dan gemar bersedekah di bulan suci ini, kita budayakan dan tingkatkan di luar bulan suci Ramadhan. Perhatikan hadits Nabi Saw. di bawah ini :
كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ, وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan sekali di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seorang ulama terdahulu pernah ditanya tentang sebagian orang yang rajin beribadah di bulan Ramadhan, namun jika bulan suci itu berlalu mereka pun meninggalkan ibadah-ibadah tersebut? Dia pun menjawab:
بِئْسَ الْقَوْمُ لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ إِلاَّ فِي رَمَضَانَ
“Alangkah buruknya tingkah mereka, mereka tidak mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan!”
Merupakan ciri utama diterimanya puasa kita di bulan Ramadhan dan tanda terbesar keberhasilan meraih lailatul qadar adalah: berubahnya diri kita menjadi lebih baik daripada kondisi kita sebelum Ramadhan.
Wallahu 'alam bishshowwab.
READ MORE - Bebeapa Kiat Menghadapi Bulan Suci Ramadhan
Baca Selanjutnya - Bebeapa Kiat Menghadapi Bulan Suci Ramadhan